Menarik rasanya mengikuti perkembangan media saat ini, ada rasa kesal, marah, kecewa dan jengah. Perkara Ahok seolah tak ada habisnya, selalu saja memenuhi beranda media sosial maupun media mainstream. Sempat terbersit tanya, andaikan arus informasi tak secepat ini, apakah Ahok akan sefenomenal ini. sekali lagi Habermas- seorang neomarxist-benar, persoalan penindasan manusia terhadap manusia adalah persoalan komunikasi massa.
Andai ruang publik mampu menyorot terjadinya kasus, tentu Marx tidak perlu sampai memobilisasi massa buruh di Manchester, cukup saja media yang mengabarkan pada dunia kalau di sana sedang terjadi penindasan, sehingga akan memicu empati banyak orang. Begitupun yang terjadi pada kasus Ahok, ingin rasanya hidup di masa, dimana digitalisasi media tidak semerbak ini.
Kembali pada perkara Ahok. sebenarnya sentimen yang dibangun oleh kalangan fundamentalis-radikal-konservatif dengan dikomandoi oleh FPI dan sosok Habib Rizieq tidak bisa tidak dikatakan ada tendensi politiknya. Dimana-mana memang isu SARA sangat laku keras, bahkan di Amerika sekalipun sebagai kiblat demokrasi terbaik katanya.
Nyatanya di AS persoalan seperti isu rasial tentang pemimpin kulit putih dan hitam, dominasi maskulin melalui diskriminasi gender saat pencalonan Hillary Clinton, tak ketinggalan pula masalah agama, konflik antara pemimpin Protestan dan Katolik, bahkan sampai saat ini hanya John F. Kennedy satu-satunya Presiden Amerika dari kalangan Katolik.
Ya begitulah realitanya, isu SARA selalu saja menjadi senjata ampuh dalam gelanggang Politik. Hal ini mengingatkan penulis pada Richard Dawkins salah satu dedengkot Atheis, “bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut Agama”. Di satu sisi ada benarnya juga, mengingat gelombang massa lebih mudah digerakkan hanya dengan menyitir isu SARA.
Meskipun begitu, esksistensi Agama tak dapat dinafikan, sebab bagaimanapun selalu ada ruang bagi Agama dalam hubungannya dengan moralitas. Penulis meyakini, perkara moralitas adalah perkara universal, dimana akal adalah basis dalam pijakan moral. Semua kita pasti tahu mana baik dan mana yang buruk, namun tanpa agama hidup hanyalah sekadar hidup. Sebab kebanyakan dari pemikir atheis dalam melakukan penyangkalan atas Tuhan, yang dimaksud bukanlah Tuhan yang asali, namun tuhan dalam psikis mereka.
Oleh karenanya, banyak pemikir agama reformis dan progresif menemukan persinggungan antara Agama dengan konsep pembebasan, atas alasan ini eksistensi agama mesti dipertahankan. Bagi mereka agama tak lain adalah sebagai alat pembebasan, baik itu membebaskan manusia dari kebodohan atas tradisi metafisik dan mitologi, juga pembebasan dari penindasan terhadap sesama manusia. Dalam islam sendiri dikenal konsep Mustadha’fin (orang yang ditindas) dan mustad’azin (orang yang menindas).
Dengan demikian, entah apa yang ada dipikiran orang-orang yang mengatasnamakan diri sebagai Pembela Islam. Sampai-sampai rela menghabiskan waktu dan energi untuk satu orang Ahok ini. Kalau dirunut kebelakang, perkara Ahok telah bermula jauh sebelum ucapannya di kepulauan seribu yang dituduh menistai ayat Al-qur’an Al-maidah ayat 51.
Namun dapat dikatakan momentum ini menjadi penyulut Api yang memang telah menjalar di tumpukan sekam. Padahal kalau dimaknai secara jernih maksud dari ucapan Ahok ditilik dari dari subtansinya sama sekali tidak menyinggung apalagi menistai Al-qur’an. Secara kita tahu gaya komunikasi Ahok memang frontal dan ceplas ceplos. Sama halnya seperti seorang sahabat, kita tahu bahwa gayanya yang terkesan ngasal tentu disaat dia berujar yang tak senonoh, kita maklum akan tindakannya itu.
Penolakan Ahok dengan berlebih-lebihan seperti menodai hadits Rasullullah yang tidak menyukai segala sesuatu dilakukan berlebihan. Energi bangsa ini terkuras habis, terutama umat islam untuk menjungkal seorang Ahok. Saya tak habis pikir, berapa banyak waktu yang kita buang percuma, padahal waktu itu dapat kita konversikan pada hal-hal bermanfaat yang juga menjadi perintah Tuhan.
Mengapa kita tidak memulai untuk tidak membuang sampah sembarangan, taat dalam antrean, berlaku jujur dan adil, memuliakan masyarakat miskin dan orang-orang terlantar, membela petani yang digusur lahannya dsb. Bukankah semua itu adalah anjuran Tuhan, bahkan telah termaktub secara jelas didalam kitab suci maupun hadits Rasulullah.
Dan bukan pula dengan mengabaikan semua itu kita telah menistakan agama.. yaa, realita ini mesti diterima bila ajaran Agama hanya dipandang simbolik-trasendental-ritual namun mengesampingkan ibadah-ibadah sosial yang harusnya sejalan dengan itu. Padahal Ayat Al-qur’an terdiri atas dua, yakninya Ayat Kauliyah (tekstual) dan Ayat Kauniyah (Kontekstual).
Sekali lagi bukan bermaksud membela Ahok apalagi mengomentari perihal ia yang seorang non-muslim, sampai-sampai akan membunuh dan mengusirnya. Surah Al-Hajj, ayat 17 cukup untuk menjelaskannya, “sesungguhnya orang Mukmin, Yahudi, Sabiin, Nasrani, Majusi, dan Musyrik, Allah pasti memberi keputusan diantara mereka pada hari kiamat. Sungguh Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.”
Berkaca pada kinerjanya memimpin Jakarta, sejauh ini memang relatif banyak kemajuan yang diciptakannya. Bahkan untuk perkara-perkara yang sebenarnya mengarah pada pembelaan atas agama telah banyak dilakukan selama kepemimpinannya.
Membersihkan kali, reformasi birokrasi, kedisiplinan waktu, menggusur prostitusi, memberangkatkan Haji pengurus masjid dan mushalla, serta membangun masjid di Balai Kota. Mendalihkan diri pada spekulasi kedekatan Ahok dengan para cukong Asing, sekali lagi saya tanya, Kepala Daerah muslim mana yang tidak melakukan hal demikian.
Pada akhirnya, gelombang massa aksi pada 4 November (411) dan 2 Desember (212) mesti melakukan oto-kritik kedalam. Alasan tidak ingin dipimpin oleh non-muslim, mestinya dijawab dengan menghadirkan tokoh muslim yang punya kharisma dan leadership.
Mampu menjadi, meminjam istilah Plato, Philosoper King, namun kenyataanya sosok itu yang tidak ada. Jangankan untuk mempersiapkan seorang Tokoh Pemimpin Islam Kaffah, sesama muslim pun mereka saling hujat-kembali waktu terbuang percuma hanya untuk memperdebatkan sunni, syiah, wahabi, moderat, liberal. Seorang muslim yang tidak mendukung aksi Bela Islam saja, langsung mereka labeli munafik, sekuler, liberal, antek PKI dsb.
Atau mestinya kita protes pada Tuhan mengapa Ahok tidak dilahirkan sebagai muslim, seraya memohon agar ia diberikan Hidayah, baru kita akan rasional dan objektif menilai kinerja Ahok. Entahlah.
[qureta.com]
Andai ruang publik mampu menyorot terjadinya kasus, tentu Marx tidak perlu sampai memobilisasi massa buruh di Manchester, cukup saja media yang mengabarkan pada dunia kalau di sana sedang terjadi penindasan, sehingga akan memicu empati banyak orang. Begitupun yang terjadi pada kasus Ahok, ingin rasanya hidup di masa, dimana digitalisasi media tidak semerbak ini.
Kembali pada perkara Ahok. sebenarnya sentimen yang dibangun oleh kalangan fundamentalis-radikal-konservatif dengan dikomandoi oleh FPI dan sosok Habib Rizieq tidak bisa tidak dikatakan ada tendensi politiknya. Dimana-mana memang isu SARA sangat laku keras, bahkan di Amerika sekalipun sebagai kiblat demokrasi terbaik katanya.
Nyatanya di AS persoalan seperti isu rasial tentang pemimpin kulit putih dan hitam, dominasi maskulin melalui diskriminasi gender saat pencalonan Hillary Clinton, tak ketinggalan pula masalah agama, konflik antara pemimpin Protestan dan Katolik, bahkan sampai saat ini hanya John F. Kennedy satu-satunya Presiden Amerika dari kalangan Katolik.
Ya begitulah realitanya, isu SARA selalu saja menjadi senjata ampuh dalam gelanggang Politik. Hal ini mengingatkan penulis pada Richard Dawkins salah satu dedengkot Atheis, “bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut Agama”. Di satu sisi ada benarnya juga, mengingat gelombang massa lebih mudah digerakkan hanya dengan menyitir isu SARA.
Meskipun begitu, esksistensi Agama tak dapat dinafikan, sebab bagaimanapun selalu ada ruang bagi Agama dalam hubungannya dengan moralitas. Penulis meyakini, perkara moralitas adalah perkara universal, dimana akal adalah basis dalam pijakan moral. Semua kita pasti tahu mana baik dan mana yang buruk, namun tanpa agama hidup hanyalah sekadar hidup. Sebab kebanyakan dari pemikir atheis dalam melakukan penyangkalan atas Tuhan, yang dimaksud bukanlah Tuhan yang asali, namun tuhan dalam psikis mereka.
Oleh karenanya, banyak pemikir agama reformis dan progresif menemukan persinggungan antara Agama dengan konsep pembebasan, atas alasan ini eksistensi agama mesti dipertahankan. Bagi mereka agama tak lain adalah sebagai alat pembebasan, baik itu membebaskan manusia dari kebodohan atas tradisi metafisik dan mitologi, juga pembebasan dari penindasan terhadap sesama manusia. Dalam islam sendiri dikenal konsep Mustadha’fin (orang yang ditindas) dan mustad’azin (orang yang menindas).
Dengan demikian, entah apa yang ada dipikiran orang-orang yang mengatasnamakan diri sebagai Pembela Islam. Sampai-sampai rela menghabiskan waktu dan energi untuk satu orang Ahok ini. Kalau dirunut kebelakang, perkara Ahok telah bermula jauh sebelum ucapannya di kepulauan seribu yang dituduh menistai ayat Al-qur’an Al-maidah ayat 51.
Namun dapat dikatakan momentum ini menjadi penyulut Api yang memang telah menjalar di tumpukan sekam. Padahal kalau dimaknai secara jernih maksud dari ucapan Ahok ditilik dari dari subtansinya sama sekali tidak menyinggung apalagi menistai Al-qur’an. Secara kita tahu gaya komunikasi Ahok memang frontal dan ceplas ceplos. Sama halnya seperti seorang sahabat, kita tahu bahwa gayanya yang terkesan ngasal tentu disaat dia berujar yang tak senonoh, kita maklum akan tindakannya itu.
Penolakan Ahok dengan berlebih-lebihan seperti menodai hadits Rasullullah yang tidak menyukai segala sesuatu dilakukan berlebihan. Energi bangsa ini terkuras habis, terutama umat islam untuk menjungkal seorang Ahok. Saya tak habis pikir, berapa banyak waktu yang kita buang percuma, padahal waktu itu dapat kita konversikan pada hal-hal bermanfaat yang juga menjadi perintah Tuhan.
Mengapa kita tidak memulai untuk tidak membuang sampah sembarangan, taat dalam antrean, berlaku jujur dan adil, memuliakan masyarakat miskin dan orang-orang terlantar, membela petani yang digusur lahannya dsb. Bukankah semua itu adalah anjuran Tuhan, bahkan telah termaktub secara jelas didalam kitab suci maupun hadits Rasulullah.
Dan bukan pula dengan mengabaikan semua itu kita telah menistakan agama.. yaa, realita ini mesti diterima bila ajaran Agama hanya dipandang simbolik-trasendental-ritual namun mengesampingkan ibadah-ibadah sosial yang harusnya sejalan dengan itu. Padahal Ayat Al-qur’an terdiri atas dua, yakninya Ayat Kauliyah (tekstual) dan Ayat Kauniyah (Kontekstual).
Sekali lagi bukan bermaksud membela Ahok apalagi mengomentari perihal ia yang seorang non-muslim, sampai-sampai akan membunuh dan mengusirnya. Surah Al-Hajj, ayat 17 cukup untuk menjelaskannya, “sesungguhnya orang Mukmin, Yahudi, Sabiin, Nasrani, Majusi, dan Musyrik, Allah pasti memberi keputusan diantara mereka pada hari kiamat. Sungguh Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.”
Berkaca pada kinerjanya memimpin Jakarta, sejauh ini memang relatif banyak kemajuan yang diciptakannya. Bahkan untuk perkara-perkara yang sebenarnya mengarah pada pembelaan atas agama telah banyak dilakukan selama kepemimpinannya.
Membersihkan kali, reformasi birokrasi, kedisiplinan waktu, menggusur prostitusi, memberangkatkan Haji pengurus masjid dan mushalla, serta membangun masjid di Balai Kota. Mendalihkan diri pada spekulasi kedekatan Ahok dengan para cukong Asing, sekali lagi saya tanya, Kepala Daerah muslim mana yang tidak melakukan hal demikian.
Pada akhirnya, gelombang massa aksi pada 4 November (411) dan 2 Desember (212) mesti melakukan oto-kritik kedalam. Alasan tidak ingin dipimpin oleh non-muslim, mestinya dijawab dengan menghadirkan tokoh muslim yang punya kharisma dan leadership.
Mampu menjadi, meminjam istilah Plato, Philosoper King, namun kenyataanya sosok itu yang tidak ada. Jangankan untuk mempersiapkan seorang Tokoh Pemimpin Islam Kaffah, sesama muslim pun mereka saling hujat-kembali waktu terbuang percuma hanya untuk memperdebatkan sunni, syiah, wahabi, moderat, liberal. Seorang muslim yang tidak mendukung aksi Bela Islam saja, langsung mereka labeli munafik, sekuler, liberal, antek PKI dsb.
Atau mestinya kita protes pada Tuhan mengapa Ahok tidak dilahirkan sebagai muslim, seraya memohon agar ia diberikan Hidayah, baru kita akan rasional dan objektif menilai kinerja Ahok. Entahlah.
[qureta.com]
